Sektor properti tahun ini diwarnai dengan tren kenaikan harga material bangunan yang berimbas langsung pada meroketnya harga jual rumah komersial. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah semakin kesulitan memiliki hunian impian. Kondisi ini membuat proyek-proyek perumahan subsidi yang dicanangkan pemerintah menjadi primadona dan diperebutkan bagai kacang goreng.
Bank-bank penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi mencatatkan rekor penyaluran tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pengembang perumahan juga terus membuka lahan-lahan baru di kawasan pinggiran kota untuk memenuhi tingginya animo masyarakat milenial yang ingin segera memiliki aset rumah pertama mereka.
Tantangan Penyediaan Lahan
Meski permintaan tinggi, para pengembang properti mengaku menghadapi kendala serius terkait terbatasnya lahan yang sesuai dengan kriteria harga patokan pemerintah. Infrastruktur penunjang seperti akses jalan, air bersih, dan transportasi umum di kawasan rumah subsidi juga kerap menjadi keluhan utama para penghuni yang terpaksa berkompromi dengan lokasi jauh dari pusat kota.
Pemerintah diharapkan segera melakukan intervensi dengan menyederhanakan regulasi perizinan dan menjamin ketersediaan lahan murah. Konsep hunian vertikal terpadu berbasis Transit Oriented Development (TOD) mungkin menjadi salah satu solusi alternatif agar para pekerja tetap dapat tinggal dengan layak di lokasi strategis yang terjangkau.